Jumat, 02 Maret 2012

CERPEN PART 2

“Dito, mama pergi dulu ke rumah sakit ya, ada pasien mama yang kambuh penyakit jantungnya” kata seorang wanita tinggi rambutnya digelung layaknya dokter-dokter wanita. Sambil menyambar tas dan kunci mobil. Dito hanya menjawa “iya ma, hati hati” yang matanya tidak lepas dari layar tv, tengah asik memainkan playstationnya.
Suara mobil pun mulai terdengar dan semakin menjauh.
“Aaaah, yap bagus!” teriaknya dalam kesunyian yang masih memainkan playstationnya. Yah, sepi sekali rumah Dito. Selain dia anak satu-satunya dari keluarga Cahyohartoto, ayahnya kerja di luar kota, beda pulau malah.
“Duh lapar” bisik Dito yang telah game over. Dito pun beranjak dari ruang tengah ke dapur. Ga ada makanan batin Dito. Dito mengambil telepon yang tergantung dekat meja makan. Dito menelpon mamanya.
“Halo ma, aku lapar nih.” Dito mulai bicara setelah teleponnya diangkat oleh mamanya.
“Aduh Dito, masak kek! Tuh di kulkas ada telur, di dalem lemari ada mie instan. Kamu malah telpon mama, usaha dong! Ilangin sifat manja kamu! Kamu udah besar sekarang!” jawab mamanya dengan suara tinggi.
“yah mamah” keluh Dito. “ aku ini laper malah dimarah marahin. Yaudah, mama pulang kapan? Bawain makanan ya!” rayu Dito kepada mamanya.
“Mama kayanya pulang malem dari rumah sakit, mama juga kebagian piket mendadak. Kamu mendingan telfon  delivery aja gih! Kecuali kalau kamu mau nunggu mama entar malem. Tapi mungkin yang ada, mama tahu, kalau kamu nungguin mama kamu bakal mati kelaparan.” Mamanya terkikik.
“iya iya ma. Bye ma”
“Bye sayang”
Pesanan pun datang, Dito yang sedang kelaparan segera melahap makan yang telah di pesannya hingga habis. Udah kenyang ngapain lagi ya? Pikir Dito yang kekenyangan, ah aku belum ngerjain pr matematika Dito masih terus berpikir. Dan akhirnya Dito beranjak dari ruang makan menuju kamarnya di lantai dua dan segera menyambar buku matematika yang tergeletak di atas meja belajarnya. Dito pun membuka buku matematika dan mulai mengerjakan tugasnya di dalam  kamar yang bernuansa biru  ketua tuaan, penuh dengan poster tim favoritnya Barcelona. Tidak hanya poster, sepreinya pun penuh dengan tulisan Barcelona, ditemani cahaya matahari sore yang akan terbenam menembus melewati jendela kamarnya.
niat masukin lanjutan cerpen yang part 2 ga sempet wae.. akhirnya sekarang bisa jeng.. jeng.. jeng..